
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
SMA Islam Jiwanala Surabaya mengucapkan:
Taqabbalallahu Minna wa Minkum
Selamat Hari Raya Idul Fitri
1 Syawal 1431 H
Minal 'Aidin wal Faizin
Mohon Maaf Lahir dan Batin
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Akhirnya, kelar sudah perjuangan siswa kelas 3 SMA Islam Jiwa Nala Surabaya dalam menghadapi Ujian Nasional (UNAS), Selasa-Kamis (22-24/4) lalu. Kini, mereka tinggal menunggu hasil pengumuman lulus tidaknya dalam UNAS. Dalam benak siswa, banyak yang mengalami kebingungan akan kemana mereka setelah lulus SMA. Ada yang ingin melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, ada pula yang ingin bekerja karena tidak punya biaya untuk kuliah dan bisa membantu orang tua. Untunglah kebingungan mereka terbayar saat mendapatkan Pembekalan Pasca SMA hasil kerja bareng SMA Islam Jiwa Nala dengan Humas Universitas Narotama Surabaya.
“Bila dalam otak pikiran kalian tidak ada keinginan untuk kuliah, maka selamanya kalian tidak akan bisa kuliah. Karena kalian sudah memutuskan untuk tidak kuliah,” kata Nur Hadi, Kepala Humas Universitas Narotama mengawali perbincangannya di hadapan 40 siswa dan guru SMA Islam Jiwa Nala ini.
Nur Hadi pun kemudian melanjutkan, bahwa yang menjadi penyebab banyaknya siswa tidak bisa melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi setelah lulus SMA karena mindset pikiran mereka. “Kalian harus mengubah pikiran kalian dari yang tidak ingin kuliah dengan harus kuliah, karena bagaimanapun tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan menentukan dalam menghadapi persaingan global saat ini,” terangnya.
Bagaimana dengan masalah biaya kuliah yang saat ini tergolong tidak murah? Bapak satu anak inipun kemudian memberikan kiat-kiatnya dalam menyiasati biaya kuliah yaitu dengan mencari beasiswa yang sekarang banyak diberikan oleh perguruan tinggi-perguruan tinggi dan juga perusahaan-perusahaan. “Di Belanda tiap tahunnya memberikan beasiswa kepada sekitar 3000 mahasiswa Indonesia untuk kuliah di sana. Nah, sekarang tinggal kalian mau apa tidak mencarinya di internet,” ungkapnya menceritakan banyak program beasiswa yang bertebaran di internet. “Sekarang sudah bukan zamannya lagi ada nama kuliah negeri atau swasta. Bila kalian mau kuliah, pertama kali kalian harus cari dulu mengenai akreditasi perguruan tinggi tersebut, karena akreditasi inilah yang menentukan bagus tidaknya suatu perguruan tingginya,” sambungnya.
Sebelumnya, siswa di ajak keliling dahulu melihat-lihat suasana aktivitas kampus Universitas Narotama. Mulai dari bagian informasi dan pendaftaran, bagian akademik, ruang perkuliahan, ruang UKM, dan perpustakaan.
“Kami berharap adik-adik siswa ini tahu akan kehidupan kampus sebelum mereka benar-benar meninggalkan bangku SMA. Selain itu, khususnya memberikan motivasi bagi mereka melalui pembekalan ini untuk bisa melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi lagi yaitu ke perguruan tinggi,” ujar Mutia, Kepala Sekolah SMA Islam Jiwa Nala Surabaya ini ketika menjelaskan tujuan diadakannya Pembekalan Pasca SMA.
□naskah: Mohammad Solihin
Bentuk Life Skill Siswa Dengan Peduli Lingkungan| |
Untuk itulah, SMA Islam Jiwa Nala Surabaya, Jumat (4/1) lalu menggelar Pelatihan Lingkungan dengan tema “Konservasi Lahan dan Tanah Sebagai Antisipasi Bencana Alam dan Global Warning” kerjasama dengan Fakultas Pertanian Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.
“Kami ingin pelatihan ini bisa menjadi life skill bagi siswa khususnya dan juga sebagai aktifitas sosial, sehingga mereka tergerak untuk ikut peduli terhadap lingkungannya,” ujar Mutia, Kepala Sekolah SMA Islam Jiwa Nala Surabaya.
Tidak kurang dari 75 peserta yang terdiri dari siswa dan guru tidak hanya berasal dari SMA Islam Jiwa Nala saja, namun juga dihadiri siswa dan guru dari SMP Yamassa. Peserta pun sangat antusias mengikuti pelatihan ini, apalagi materi yang diberikan oleh para pembicara yang ahli dibidangnya yaitu Puguh Iryantoro (Ketua ASPENI DPD Jatim), Dwi Retno Suryaningsih (Dekan Fakultas Pertanian UWK Surabaya), dan M. Tohiron (Dosen Fakultas Pertanian UWK Surabaya).
“Terjadinya bencana alam seperti banjir dan tanah longsor karena ekosistem yang sudah tidak seimbang lagi alias rusak. Kebanyakan karena ulah manusia yang lebih banyak merusak alam daripada merawatnya, lihat saja hutan yang pohonnya banyak ditebangi sehingga hutan menjadi gundul,” terang Tohiron dengan menunjuk photo slide hutan gundul di depan peserta.
Selain memberikan materi, para pembicara juga menunjukkan langsung cara memelihara dan merawat pohon. “Kebanyakan masyarakat yang diberi pohon oleh pejabat dan diekspos oleh media hanya disuruh menanam, setelah itu rusak karena tidak ada keinginan untuk memeliharanya. Padahal yang dibutuhkan untuk mengantisipasi ancaman bahaya bencana alam seperti banjir dan tanah longsor itu tidak hanya penanaman pohon, tapi juga pemeliharannya,” kata Tohiron.
Sementara itu, sebagai bentuk kepedulian langsung untuk gerakan penanaman pohon dan pemeliharaannya, secara simbolis diberikan sebuah pohon oleh mahasiswa UWK Surabaya kepada siswa SMA Islam Jiwa Nala Surabaya.